Ramadan 2026

Solidaritas di Balik Cahaya Obor Medan: Sambut Ramadan 1447 H dengan Doa untuk Sumatera

Solidaritas di Balik Cahaya Obor Medan: Sambut Ramadan 1447 H dengan Doa untuk Sumatera
Solidaritas di Balik Cahaya Obor Medan: Sambut Ramadan 1447 H dengan Doa untuk Sumatera

JAKARTA - Suasana Kota Medan mendadak syahdu pada Sabtu malam, 14 Februari 2026. Di balik riuhnya ribuan langkah kaki yang menyusuri jalanan protokol, terpancar sebuah pesan mendalam tentang empati dan harapan. Cahaya obor yang dibawa oleh ribuan umat Islam bukan sekadar simbol kegembiraan menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, melainkan juga nyala api doa bagi pemulihan wilayah Sumatera yang tengah berduka.

Meskipun hujan sempat membasahi aspal ibu kota Provinsi Sumatera Utara tersebut, semangat para peserta tidak luntur sedikit pun. Tradisi pawai obor tahun ini tampil berbeda dengan balutan misi kemanusiaan, menciptakan harmoni antara kesalehan ritual dan kepekaan sosial di tengah masyarakat.

Spirit 'Lekas Pulih Sumatera' di Tengah Kemilau Obor

Tahun ini, penyelenggara pawai obor mengusung tema yang sarat akan makna solidaritas, yakni 'Lekas Pulih Sumatera'. Pemilihan tema tersebut bukanlah tanpa alasan. Belakangan ini, sejumlah wilayah di Pulau Sumatera memang tengah berjuang bangkit setelah dihantam rentetan bencana alam yang merusak infrastruktur serta menimbulkan kerugian materiil bagi masyarakat luas.

Ketua Panitia Pawai Obor, Taufik Ismail, menjelaskan bahwa gerakan ini bertujuan untuk menyatukan barisan umat dalam doa bersama. Melalui pawai ini, masyarakat Medan ingin menunjukkan bahwa kegembiraan menyambut bulan puasa tidak membuat mereka lupa akan penderitaan saudara sebangsa yang tertimpa musibah.

"Untuk tahun ini, antusiasme warga cukup meningkat. Tercatat ada sekitar 97 kelompok masyarakat yang ikut serta, dengan total peserta diperkirakan menembus lebih dari tujuh ribu orang," ungkap Taufik saat diwawancarai oleh para jurnalis di sela-sela kegiatan.

Rute Longmarch dan Lautan Cahaya dari Masjid Raya Al-Mashun

Titik keberangkatan dimulai dari pelataran Masjid Raya Al-Mashun, sebuah ikon bersejarah di Jalan Sisingamangaraja Medan. Dari masjid tersebut, lautan manusia mulai bergerak teratur membelah kegelapan malam. Rute yang dilewati mencakup jalur-jalur utama kota, mulai dari Jalan Katamso, Jalan Pemuda, Jalan Palang Merah, Jalan MT Haryono, hingga Jalan Cirebon.

Pihak panitia juga telah menyiapkan manajemen perjalanan yang rapi, termasuk menyediakan titik istirahat (pit stop) di depan Hotel Soechi. Di lokasi tersebut, para peserta dapat mengatur napas sejenak sebelum akhirnya mencapai titik akhir kegiatan yang ditutup dengan sesi tausiyah keagamaan yang menyejukkan hati.

Kehadiran tujuh ribu lebih peserta ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan pelaksanaan pada tahun 2025 lalu. Keberhasilan menjaga ketertiban di tengah massa yang masif menjadi catatan positif bagi kedewasaan warga Medan dalam berorganisasi dan menyampaikan aspirasi religiusnya.

Lintas Generasi dalam Lantunan Selawat

Pawai obor kali ini menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai tradisi Ramadan mampu menyatukan berbagai lapisan usia. Peserta yang hadir tidak hanya didominasi oleh kelompok pemuda atau remaja masjid, tetapi juga melibatkan orang tua hingga anak-anak kecil yang berjalan dengan riang di bawah pengawasan keluarga mereka.

Suara lantunan selawat yang menggema sepanjang jalan memberikan nuansa magis yang menyentuh perasaan siapa pun yang mendengarnya. Bagi sebagian warga, pengalaman ini memberikan kesan spiritual yang mendalam, terutama bagi mereka yang baru pertama kali berpartisipasi dalam kerumunan cahaya tersebut.

Nara, salah satu peserta yang ikut berjalan dalam barisan, mengungkapkan rasa harunya atas kebersamaan tersebut. "Baru pertama kali mengikuti pawai obor ini, sangat menyentuh hati. Semoga kita diberikan kesehatan menjalankan ibadah puasa ini," tuturnya dengan penuh harapan.

Implementasi Empati dalam Ritual Keagamaan

Transformasi pawai obor dari sekadar perayaan menjadi gerakan doa bersama merupakan langkah inovatif dalam memperkuat ketahanan sosial. Dengan mengaitkan momen sakral Ramadan dengan isu kemanusiaan 'Lekas Pulih Sumatera', warga Medan sedang mengirimkan pesan bahwa agama adalah sumber energi untuk saling menolong dan memulihkan.

Bencana alam yang melanda Sumatera baru-baru ini memang meninggalkan luka mendalam bagi warga terdampak. Melalui aksi jalan kaki dan membawa obor ini, peserta berharap perhatian publik dan bantuan terus mengalir bagi mereka yang sedang berjuang membangun kembali rumah dan kehidupan mereka yang rusak.

Ketertiban peserta dalam mengikuti arahan panitia juga patut diapresiasi. Meskipun volume manusia sangat besar, arus lalu lintas di sekitar rute tetap dapat dikendalikan dengan bantuan pihak keamanan dan koordinasi internal panitia yang solid. Hal ini membuktikan bahwa kegiatan massal bertajuk keagamaan dapat berjalan harmonis dengan ketertiban umum.

Menyongsong Ramadan dengan Hati yang Bersih

Pawai obor di Medan kini telah menjadi agenda rutin tahunan yang dinanti-nantikan. Namun, penekanan pada sisi empati di tahun 2026 ini memberikan standar baru dalam penyelenggaraan acara serupa di masa depan. Persiapan menyambut Ramadan kini tidak lagi hanya soal ketersediaan pangan atau persiapan ibadah di masjid, tetapi juga soal membersihkan hati dengan cara peduli pada sesama.

Seiring dengan berakhirnya tausiyah di penghujung acara, ribuan obor perlahan mulai dipadamkan, namun api semangat solidaritas tetap menyala di hati para warga Medan. Harapan agar Sumatera segera pulih sepenuhnya menjadi doa penutup yang mengiringi langkah pulang setiap peserta ke rumah masing-masing, siap menyongsong hari-hari penuh berkah di bulan Ramadan 1447 Hijriah.

Kemeriahan di Medan malam itu adalah sebuah pengingat bahwa di balik kegelapan bencana, selalu ada cahaya harapan yang dibawa bersama-sama. 'Lekas Pulih Sumatera' bukan sekadar slogan di atas spanduk, melainkan detak jantung umat yang bersiap menjemput kemenangan di bulan suci.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index