JAKARTA - Wacana perubahan besar tengah bergulir di paddock MotoGP. Bukan soal mesin, aerodinamika, atau format sprint race, melainkan mengenai kesejahteraan para pebalap yang setiap pekan mempertaruhkan keselamatan di lintasan.
Kejuaraan dunia balap motor MotoGP dikabarkan sedang menyiapkan regulasi baru terkait standar gaji minimum bagi seluruh pebalap penuh waktu mulai musim 2027.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya menciptakan keseimbangan finansial di grid. Selama ini, jurang pendapatan antara pebalap papan atas dan rider tim satelit dinilai terlalu lebar. Padahal, risiko yang dihadapi seluruh pebalap sama besar ketika lampu start padam dan motor melaju dengan kecepatan tinggi di tikungan pertama.
Mulai 2027 seluruh pebalap penuh waktu akan memiliki standar bayaran minimum sebesar 500.000 euro atau sekitar Rp 10 miliar per tahun. Regulasi tersebut bahkan direncanakan berlaku untuk pebalap rookie yang baru masuk ke kelas utama.
Kebijakan ini tidak sekadar menaikkan angka kontrak, melainkan menjadi simbol pengakuan terhadap profesionalisme dan risiko yang melekat dalam setiap balapan. MotoGP ingin memastikan bahwa tidak ada lagi pebalap utama yang menerima bayaran terlalu rendah dibandingkan kontribusi dan risiko yang mereka tanggung.
Latar Belakang Ketimpangan Gaji Pebalap
Dalam beberapa musim terakhir, perbedaan pendapatan antarpebalap memang mencolok. Nama seperti Marc Marquez dan Fabio Quartararo disebut sebagai pebalap dengan penghasilan tertinggi, dengan bayaran yang menembus lebih dari 10 juta euro atau sekitar Rp 198 miliar per musim.
Sebaliknya, sebagian pebalap tim satelit diyakini hanya menerima kontrak sekitar 100.000 euro atau Rp 1,9 miliar per tahun. Perbedaan tersebut dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan tingkat risiko yang dihadapi di lintasan. Setiap rider, baik dari tim pabrikan maupun satelit, tetap berhadapan dengan potensi cedera serius di setiap seri.
Karena itu, tujuan utama penerapan gaji minimum ini adalah mengurangi kesenjangan pendapatan antarpebalap, mengingat seluruh rider menghadapi risiko yang sama saat berada di lintasan. Regulasi baru ini diharapkan dapat menghadirkan rasa keadilan yang lebih kuat di antara para pebalap.
Rincian Skema Gaji Minimum 2027
Skema gaji minimum yang diusulkan menetapkan angka dasar 500.000 euro per musim bagi seluruh pebalap penuh waktu. Angka tersebut menjadi batas bawah kontrak, bukan batas atas. Artinya, tim tetap memiliki keleluasaan menawarkan nilai lebih tinggi sesuai prestasi, reputasi, dan daya tarik komersial pebalap.
Regulasi ini juga berlaku bagi pebalap rookie. Dengan demikian, talenta muda yang promosi ke kelas utama tidak lagi memulai karier MotoGP dengan kontrak yang terlalu rendah dibandingkan tuntutan profesional yang mereka emban.
Namun, skema tersebut tidak mencakup bonus berbasis performa. Artinya, pebalap masih bisa memperoleh tambahan pendapatan dari hasil balapan, sponsor, maupun insentif lainnya. Sistem ini mempertahankan elemen kompetitif karena kemenangan dan konsistensi tetap memberikan dampak finansial signifikan.
Dengan struktur seperti itu, keseimbangan antara keamanan finansial dan motivasi kompetitif tetap terjaga.
Masuk dalam Draf Perjanjian Komersial 2027–2031
Klausul gaji minimum dilaporkan sudah dimasukkan ke dalam draf perjanjian komersial periode 2027–2031 yang sedang dibahas antara MotoGP Sports Entertainment Group (SEG) yang sebelumnya dikenal sebagai Dorna Sports.
Pembahasan kontrak komersial baru akan terus berlanjut antara MotoGP SEG dan Motorcycle Sports Manufacturers Association pada seri pembuka musim di Thailand. Dalam proses negosiasi tersebut, isu keseimbangan finansial dan stabilitas jangka panjang menjadi salah satu fokus utama.
Muncul pula rumor bahwa para pabrikan mendorong kesepakatan yang lebih seimbang dan stabilitas kontrak jangka panjang, serupa dengan model yang diterapkan di Formula 1. Langkah tersebut dinilai mampu menciptakan ekosistem kompetisi yang lebih berkelanjutan.
Jika disahkan, aturan gaji minimum akan menjadi bagian integral dari lanskap baru MotoGP pasca-2026, beriringan dengan regulasi teknis baru yang juga tengah disiapkan.
Isu Lama yang Kembali Menguat
Wacana penerapan gaji minimum sebenarnya bukan hal baru di MotoGP. Isu ini sempat dikaitkan dengan rencana pembentukan asosiasi pebalap, namun hingga kini belum terealisasi. Tanpa asosiasi formal, upaya kolektif untuk memperjuangkan standar kesejahteraan pebalap kerap berjalan lambat.
Kini, dengan masuknya klausul tersebut ke dalam draf resmi perjanjian komersial, peluang realisasi dinilai lebih besar dibandingkan sebelumnya. Momentum pembaruan regulasi teknis dan komersial untuk periode 2027–2031 menjadi kesempatan strategis untuk menata ulang struktur kompetisi, termasuk aspek finansial.
Bagi sebagian pihak, kebijakan ini bukan sekadar soal angka, melainkan tentang perlindungan profesi. Pebalap MotoGP adalah atlet elit dengan risiko cedera tinggi. Standar bayaran minimum dapat menjadi bentuk pengakuan atas profesionalisme dan dedikasi mereka.
Dampak terhadap Stabilitas dan Keseimbangan Grid
Jika aturan gaji minimum benar-benar disahkan, maka dampaknya bisa signifikan terhadap dinamika tim. Tim satelit yang sebelumnya menawarkan kontrak rendah harus menyesuaikan struktur anggaran mereka. Di sisi lain, pebalap muda akan memiliki jaminan finansial yang lebih layak saat memasuki kelas utama.
Kebijakan ini juga berpotensi memperkuat citra MotoGP sebagai kompetisi yang lebih adil dan profesional. Keseimbangan finansial di grid dapat meningkatkan daya tarik bagi talenta muda, sponsor, dan investor.
Meski demikian, implementasinya tetap menunggu kesepakatan final antara pihak penyelenggara dan para pabrikan. Proses negosiasi masih berlangsung dan diperkirakan akan terus menjadi topik utama sepanjang musim berjalan.
Jika disahkan, maka aturan gaji minimum dinilai bisa menjadi langkah penting untuk menciptakan keseimbangan finansial di grid sekaligus meningkatkan perlindungan bagi pebalap.