Ekspansi Kuliner Halal Korea: Bandung Jadi Barometer Baru Pasar Muslim

Minggu, 15 Februari 2026 | 09:40:31 WIB
Ekspansi Kuliner Halal Korea: Bandung Jadi Barometer Baru Pasar Muslim

JAKARTA - Pasar kuliner di Tanah Air kembali diguncang oleh tren global yang semakin adaptif dengan nilai-nilai lokal. Kali ini, gelombang produk pangan halal asal Korea Selatan memantapkan posisinya di Bandung, yang selama ini dikenal sebagai kiblat estetika dan gaya hidup di Indonesia. Melalui integrasi antara cita rasa khas Negeri Ginseng dan standar kehalalan yang ketat, produk-produk ini bertransformasi menjadi primadona baru yang menyasar jantung komunitas Muslim urban.

Langkah strategis ini bukan sekadar upaya memperluas jangkauan pasar, melainkan sebuah respons cerdas terhadap meningkatnya kesadaran konsumen akan pentingnya keamanan pangan yang selaras dengan syariat. Bandung, dengan ekosistem kreatifnya yang dinamis, terpilih menjadi titik tumpu bagi ekspansi pangan halal Korea untuk menjangkau pasar regional yang lebih luas di Indonesia.

Dominasi Paviliun Korea di Ajang BIFHEX 2026

Panggung pembuktian bagi kekuatan produk Korea berlangsung dalam perhelatan akbar 2026 Bandung International Food and HoReCa Expo (BIFHEX) yang diselenggarakan pada 10 hingga 12 Februari di Bandung, Jawa Barat. Kehadiran Paviliun Korea dalam ajang tersebut menjadi magnet utama bagi para pelaku industri makanan, pemilik ritel, hingga distributor besar yang ingin memperbarui portofolio produk mereka.

Inisiasi yang digerakkan oleh Kementerian Pertanian, Pangan dan Urusan Pedesaan Republik Korea bersama Korea Agro-Fisheries & Food Trade Corporation (aT) ini mencatatkan performa bisnis yang fantastis. Nilai konsultasi bisnis yang tercipta menembus angka USD 20,77 juta, sebuah pencapaian yang luar biasa mengingat target awal hanya dipatok pada angka USD 10 juta.

Lonjakan minat ini menandakan bahwa pelaku usaha di Indonesia melihat potensi keuntungan besar dari produk-produk Korea yang telah bersertifikasi halal. Mulai dari camilan ringan, minuman tren, hingga mi instan, semuanya kini menjadi incaran generasi muda Muslim yang ingin mengeksplorasi rasa tanpa mengompromikan prinsip agama.

Sertifikasi Halal sebagai Kunci Penetrasi Pasar Jawa Barat

Strategi agresif para pelaku industri Korea ini juga bertepatan dengan kebijakan regulasi di Indonesia, di mana kewajiban sertifikasi halal bagi produk makanan dan minuman kini mengalami penundaan hingga Oktober 2026. Jeda waktu ini dimanfaatkan secara maksimal untuk memperkenalkan lini produk yang sudah siap secara standar halal sebelum aturan tersebut benar-benar diimplementasikan secara menyeluruh.

Di Jawa Barat, faktor halal bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan penentu utama laku atau tidaknya sebuah produk di pasaran. Hal ini dikonfirmasi oleh para pemain ritel besar yang hadir dalam pameran tersebut, yang melihat adanya pergeseran signifikan dalam pola belanja masyarakat.

"Sekitar 88% konsumen di Jawa Barat merupakan konsumen Muslim, sehingga status sertifikasi halal menjadi faktor penentu yang sangat penting dalam pembelian produk pangan. Lebih banyak produk pangan halal Korea baru yang diimpor dibandingkan perkiraan, sehingga kami mempertimbangkan perluasan kerja sama dan penambahan produk di jaringan kami," papar Agung, perwakilan dari Yogya Group.

Pernyataan ini menegaskan bahwa kuliner Korea telah keluar dari sekat-sekat restoran eksklusif dan mulai mengisi rak-rak ritel modern hingga masuk ke meja makan rumah tangga masyarakat di Bandung dan sekitarnya.

Visi Jangka Panjang Ekspansi Pangan Korea

Melihat kesuksesan di Bandung, pihak produsen Korea mulai merancang peta jalan untuk menjangkau daerah-daerah lain di Indonesia. Direktur Ekspor Produk Pangan aT, Jeon Gi-chan, menyatakan bahwa antusiasme terhadap produk pertanian halal Korea sudah melampaui batas-batas kota besar dan mulai menyentuh daerah pinggiran yang memiliki basis Muslim yang kuat.

“Belakangan ini, minat dan konsumsi terhadap produk pangan pertanian halal Korea di kalangan generasi Muslim Indonesia berkembang pesat hingga ke daerah-daerah," ungkap Jeon Gi-chan.

Beliau menambahkan bahwa aT tidak akan berhenti pada partisipasi pameran semata, melainkan akan memperkuat pendekatan melalui pengalaman langsung bagi konsumen. "Kami akan terus mendorong berbagai kegiatan pemasaran yang disesuaikan dengan pasar lokal, termasuk acara pengalaman konsumen, tidak hanya sebatas partisipasi dalam pameran, guna memperluas basis pasar dan memperkuat fondasi konsumsi yang berpusat pada kota-kota besar daerah," sambungnya.

Sinergi Kreatif dengan Ekosistem HoReCa Bandung

Kehadiran produk halal Korea ini juga memberikan angin segar bagi sektor Hotel, Restoran, dan Kafe (HoReCa) di Bandung. Para pelaku usaha kreatif kini memiliki lebih banyak pilihan bahan baku berkualitas untuk menciptakan menu fusion yang unik. Inovasi ini sangat penting bagi industri kuliner Bandung yang terus dituntut memberikan sesuatu yang segar bagi para wisatawan.

Di masa depan, kolaborasi antara produsen Korea dan distributor lokal diprediksi tidak hanya fokus pada volume impor, tetapi juga pada kampanye kreatif yang menyasar komunitas muda. Dengan pendekatan yang lebih adaptif, kuliner lintas negara ini membuktikan bahwa perbedaan budaya dapat dijembatani melalui standar universal yang menghargai nilai-nilai lokal.

Gelombang tren halal Korea di Bandung menjadi bukti nyata bagaimana kekuatan budaya populer (K-Wave) yang dikombinasikan dengan kepatuhan terhadap standar halal mampu menciptakan peluang ekonomi baru yang masif. Bagi Muslim Indonesia, ini adalah kabar baik yang memperkaya pilihan gaya hidup mereka di tengah dunia yang semakin terkoneksi.

Terkini